Lipa’ Sabbe

Berkunjung ke Tanah Ogi, atau jalan-jalan Sulawesi Selatan, jangan lupa membawa pulang ole-ole berupa Lipa Sabbe atau kain sutera bugis. Tidak seperti sutra dari bagian lain di Indonesia, atau bahkan dari Malaysia, Sutera Bugis memiliki warna-warna cerah dan motif tie-dye horizontal.
Selain memang untuk sarung, juga untuk baju kurung atau sering disebut baju bodo, kebaya dan kemeja laki-laki serta atasan modis dan rok. Yang bisa didapat di toko-toko khusus Souvenir maupun toko sutera di Makassar.

Tetapi jika ingin mengunjungi langsung sentra kerajinan sutra bugis tersebut, adanya di Kabupaten Wajo. Yang letaknya sekitar 242 kilometer di sebelah timur laut Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar menuju ke lokasi dapat ditempuh selama kurang lebih 5 – 6 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum antar kota. Motif kain sutra produksi daerah ini ada dua macam, yaitu motif tradisional dan non-tradisional. Motif tradisional atau yang lebih dikenal dengan motif Bugis di antaranya adalah corak kotak-kotak kecil yang disebut balo renni. Sementara itu, corak kotak-kotak besar seperti kain tartan Skotlandia, diberi nama balo lobang. Selain corak kotak-kotak, terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang. Corak ini menggambarkan gelombang lautan. Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.

Menurut para pengrajin. untuk memperoleh kain sutra yang berkualitas tinggi, benang lokal dan impor dipadukan menjadi satu dan diolah dalam beberapa tahap. Pertama, kedua macam benang tersebut dimasak dengan sabun dan soda sekitar 1 jam dalam suhu 90 derajat. Tahap selanjutnya, kain dijemur selama 3 jam dengan suhu 50 derajat. Setelah itu, benang siap dipasang di mesin tenun dan diolah menjadi kain. Satu kilogram benang lusi dapat menghasilkan sekitar 40 meter kain, dan satu kilogram pakan dapat menghasilkan 12 meter kain. Uniknya, semua proses penenun dilakukan di kolong-kolong rumah mereka.

Menurut legenda, masyarakat Bugis percaya bahwa keterampilan menenun nenek moyang masyarakat Bugis diilhami oleh sehelai sarung yang ditinggalkan oleh para dewa di pinggir danau Tempe. Dan di desa-desa yang terletak di pinggiran danau Tempe itulah kain tenun Bugis yang sangat bagus itu dibuat.

Ada tiga bentuk dan corak kain sutra yang diproduksi oleh pengrajin, yaitu: kain setengah jadi (seperti sarung, baju, dan selendang); kain berbentuk gulungan yang dapat dibeli permeter sesuai dengan kebutuhan; dan pakaian siap pakai (seperti: baju, jas, kerudung, kipas, dompet, dan tempat peralatan rias wajah).

Sutera bugis, selain dibuat busana untuk dipakai di acara-acara tertentu, kain peninggalan nenek moyang ini, tidak pernah bisa lepas dari fungsinya sebagai pelengkap kebutuhan budaya. Untuk sarung Bugis misalnya. Selain menjadi pakaian sehari-hari, juga digunakan untuk kelengkapan upacara yang bersifat sakral, dan sebagai hadiah untuk mempelai perempuan dari mempelai laki-laki dis ebuah acara pernikahan.

Sumber Artikel : http://seniblogs.blogspot.com/2011/04/lipa-sabbe.html

Tataroi adatta' :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s